Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com
→ to get more interactive with Karla, please join her at FACEBOOK or TWITTER





Terima kasih telah mampir ke blog ini .... Terima kasih telah mampir ke blog ini ....




Sekilas Penulis --- Guestbook ---
Buy Karla's Books Online


Komentar lama di Chatbox ini akan otomatis terhapus. Untuk
meninggalkan komentar yg permanen, silahkan isi GUESTBOOK,
atau di READER'S COMMENT di setiap posting

   




Karla M. Nashar on Facebook




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, March 24, 2010
TAL 3 - Synopsis & Excerpt



Tongkat Ajaib Lolita

HAPPILY EVER AFTER

13.5 x 20 cm - 200 pages

PT Gramedia Pustaka Utama



Sypnopsis

Apa yang kita lakukan seandainya kita mendapat firasat hidup kita tidak akan lama lagi? Pasti kita bakal stres dan sedih. Begitulah kira-kira yang dirasakan Lolita. Meski ia berusaha tegar, semuanya sungguh tak tertahankan. Terlebih karena ia dan Dharma bertengkar hebat. Meski begitu, pertengkaran dan kemarahan tak bisa melepaskan Dharma dari Lolita. Apa pun yang dialami gadis itu, Dharma pasti merasakannya juga. Sampai pada suatu malam sebuah mimpi membuat Dharma tersadar bahwa hidup Lolita tidak akan lama lagi. Apa yang harus dilakukan Dharma, ketika nyawa Lolita benar-benar berada di ujung tanduk dan dokter angkat tangan?


------------------------------------------------


Excerpt



Bab 1

Lolita berdiri membisu di tengah-tengah jalan tanah merah kering penuh debu itu. Matanya masih menatap tak percaya pemandangan di depannya. Seperti mimpi saja rasanya, tapi mereka memang sudah sampai di sini. Jadi ini benar-benar kenyataan. Bukan khayalan.

"Demi bau kemenyan paling nyelekit yang pernah gue cium, gue nggak percaya akhirnya kita bisa sampai juga di sini," desah Freddy yang berdiri di samping Lolita. COwok itu menyeka keringat di dahinya. Udara memang terik. Freddy, ,yang paling tambun di antara mereka berlima, tampak paling menderita karena udara panas itu. Mungkin lemak di tubuhnya meleleh saking panasnya, makanya ia selalu ebrkeringat.

"Gue juga," sahut Rangga.
"He-eh, "Banu dan Ibra mengangguk bareng.

Lolita menatap takjup. Keempat sepupunya berdiri mengapitnya. Masing-masing dua di kiri dan dua di kanan. Mereka terdiam saking kagum melihat pemandangan di sekeliling mereka. Ada perasaan tak terkatakan yang membuat hati mereka sesak oleh berbagai emosi saat itu.

"Jadi di sini tempat Mandahdru pertama kali ketemu Kakek Boab?" gumam Lolita akhirnya....


Back to : HOME




Posted at 08:15 pm by LALA
Reader's comments  

Previous Page Next Page