Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com
→ to get more interactive with Karla, please join her at FACEBOOK or TWITTER





Terima kasih telah mampir ke blog ini .... Terima kasih telah mampir ke blog ini ....




Sekilas Penulis --- Guestbook ---
Buy Karla's Books Online


Komentar lama di Chatbox ini akan otomatis terhapus. Untuk
meninggalkan komentar yg permanen, silahkan isi GUESTBOOK,
atau di READER'S COMMENT di setiap posting

   




Karla M. Nashar on Facebook




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, June 29, 2008
LHHP Deleted Scenes

Salah satu dari deleted scene dalam LHHP. Tadinya Gadis mempunyai tiga orang sahabat, namun terpaksa karakter mereka dibuang karena hanya memperlambat jalan cerita, dan tidak terlalu penting kehadirannya.

 

----------------------------------------------

 

 

"Surprise!!"

Si Three Bourgeois Ladies---Sandra, Marleen, dan Charlotte berdiri di pintu masuk ruang kerja Gadis yang terbuka lebar. Di belakang mereka, Lulu tampak bingung, tidak tahu harus berbuat apa dengan ketiga tamu tak diundang yang tiba-tiba menyelinap masuk tanpa menghiraukan pertanyaan siapa dan apa keperluan mereka. Gadis memberi isyarat ke sekretarisnya untuk membiarkan mereka masuk. Lulu pun kembali ke meja.

"Akhirnya berhasil juga kita masuk ke sarang lo, Dis," seru Marleen sambil mendaratkan pantatnya di kursi.

"Heran, sejak lo balik ke sini, belum pernah kita  diundang ke kantor lo. Kenapa sih?!" Sandra bersandar di lengan kursi Marleen.

"Emangnya di kantor ini nggak boleh nerima tamu orang luar, gitu? Tapi satpam di bawah tadi ramah banget sama kita," timbrung Charlotte yang lebih memilih meja kerja Gadis untuk mendaratkan pantatnya yang dibalut rok mini ketat itu.

Gadis memerhatikan ketiga temannya. Sejak kembali ke Jakarta, ia belum sempat mengundang mereka datang ke kantornya. Alasannya tentu saja klasik. Sibuk. Terlebih dengan adanya kasus Dhemoticyl.

"Kalian tuh pada tahu kan teknologi bernama telepon?" tanya Gadis yang masih kaget dengan invasi mendadak ketiganya. Saat itu ia memang sedang sibuk sekali. "Telepon dulu kek kalau mau mampir. Atau paling nggak SMS."

"Kalau kita telepon dulu, pasti lo bakal ada aja alasannya buat nolak. Sibuk lah, meeting lah, presentasi lah," tukas Marleen.

"Benar, Dis, elo pasti nggak akan ada waktu buat kami. Padahal kami sekarang tahu deh alasan sebenarnya kenapa lo nggak mau kami datengin." Sandra menaikkan alisnya penuh makna.

Gadis mengerutkan dahi mendengar suara Sandra yang seolah menyimpan rahasia itu.

"Ayo ngaku, ini kan yang bikin lo sibuk," desak Charlotte sambil melemparkan koran yang memuat foto Gadis dalam gendongan Troy. 

"Katanya lain divisi sama dia, Dis, kok ternyata lo satu kerjaan sama si Troy sih?!" (Marleen)

"Bohong ya? Tega banget sih nggak bilang-bilang kalau lo dekat sama Troy?!" (Sandra)

"Iya, elo jahat, Dis! Udah tau kami bertiga tuh ngefans banget sama dia, kenapa elo umpetin?" (Charlotte)

"Kami tahu sekarang kenapa elo bersikap seperti itu. Ternyata diam-diam lo ada main sama si Troy, kan?!" (Marleen)

"Iih, padahal lo pernah bilang paling bete sama cowok kayak dia." (Sandra)

"Iya, kenapa sekarang berubah? Muna juga deh!" (Charlotte)

Pertanyaan bertubi-tubi yang dilancarkan ketiga temannya itu membuat Gadis terbelalak. Sudah cukup tadi pagi Pak Irawan menuduh ia dan Troy punya hubungan gara-gara berita konyol itu, dan sekarang ketiga temannya juga ikut-ikutan  percaya? Padahal jelas-jelas mereka lebih mengenal dirinya, mengenal seorang Gadis Parasayu yang begitu nasionalis dan menentang setiap bentuk pengingkaran jati diri seperti yang dilakukan seorang Troy Mardian dengan lagaknya yang sok ke-Amerika-Amerika-an itu?! Jelas mereka itu sudah edan.

"Kalau nuduh yang bener dong!" Gadis merengut sebal. "Elo-elo kan tau siapa gue. Mungkin nggak sih gue punya hubungan sama cowok kayak begitu? Coba deh pake otak dikit kalau mau nuduh."

"Enak aja! Emangnya kami nggak pake otak baca berita itu?" balas Sandra sebal karena otaknya diragukan oleh temannya yang sedang menjadi tertuduh.

"Trus, ngapain dong elo pake berpose ala pengantin baru gitu?!" desak Charlotte.

"Iya, Dis, siang-siang bolong, lagi," tambah Marleen cepat.

"Nah, sekarang jadi nggak masuk akal kan, peristiwa itu?" ujar Gadis yang mulai melihat keraguan di wajah teman-temannya itu. "Karena memang nggak ada apa-apa antara gue sama dia. Coba perhatiin benar-benar tuh foto, pasti kalian akan temuin apa yang bikin gue sampe terpaksa melompat ke pelukan tuh orang…"

Ketiga temannya itu pun mendekatkan wajah ke koran di meja. Tak lama kemudian… Ha… Ha… Ha… Tawa pun terlepas dari bibir merah mereka.

"Ampun deh, Dis!! Masih aja tuh?" (Sandra)

"Hari gini masih takut sama ayam begitu?!" (Marleen)

"Gue pikir lo udah sembuh, Dis. Eh, ternyata masih fobia juga toh!" (Charlotte)

Di bangkunya, Gadis semakin cemberut mendengar tawa teman-temannya. Masalah fobianya itu memang sudah diketahui mereka bertiga. Bahkan mereka sudah sering menjadi saksi hidup histeria-histeria dadakannya kalau ia tak sengaja berpapasan dengan makhluk supermengerikan bernama ayam katai.

"Puas?!" desisnya sebal.

"Kalau emang lo nggak ada apa-apa sama Troy, berarti dia available dong?" (Sandra)

"Boleh dong kenalin ke kami." (Charlotte)

"Iya, Dis, elo pelit banget sih, punya barang keren nganggur, nggak nawarin kita." (Marleen)

"Nona-nona, dengar ya baik-baik," potong Gadis cepat sebelum acara rengek-merengek ketiga temannya berlanjut. "Perkara dia available apa nggak, jelas gue nggak tahu dan nggak mau tahu. Trus soal minta dikenalin, pastinya gue nggak bakal mau karena gue punya kerjaan yang lebih penting daripada jadi makcomblang nggak jelas gitu..."

"Iih! Payah lo, Dis!" (Charlotte)

"Tega deh!" (Sandra)

"Kenapa sih nggak mau?" (Marleen)

"Pokoknya nggak aja," Gadis bersikeras. "Terus terang, gue memang pengen sesedikit mungkin berinteraksi sama dia. Apalagi buat hal-hal yang bukan urusan kantor. Gue nggak pengen punya hubungan pribadi dengan orang itu."

"Elo tuh aneh, Dis." (Charlotte)

"Padahal gue dengar, dia orangnya asyik banget buat ngobrol." (Marleen)

"Katanya bisa bikin cewek teman kencannya nggak bakal ngelupain kencan mereka." (Sandra)

"Bisa gue bayangin, he must be a good kisser!" (Marleen)

"Amazing lover!" (Sandra)

"Unbelievable sex partner!" (Charlotte)

"Oii!!" teriak Gadis gusar karena ketiga temannya tak henti-hentinya menghayalkan Troy Mardian. Dan semua puja-puji yang ditujukan buat cowok itu hanya membuatnya semakin muak. "Tolong deh, kalau pada mau melamun jorok gitu, mendingan pergi sana! Gue banyak kerjaan."

Tok. Tok. Tok.

"Gadis, this is the list, oh hello, ladies…"  Troy berdiri di pintu masuk ruang kerja Gadis dengan selembar dokumen di tangan. Tampaknya ia ingin memberikan dokumen itu, namun kalimatnya terhenti saat melihat kehadiran tiga wanita trendi di hadapannya. Senyumnya yang paling meluluhkan pun segera mengembang di wajah tampannya.

"Aahh!! Troy ya?!" (Charlotte)

"Ya ampun! Akhirnya ketemu juga sama Troy!" (Sandra)

"Duh! Benar-benar nggak percaya nih!" (Marleen)

Sambutan ala selebriti itu pun diberikan oleh Sandra, Marleen, dan Charlotte yang tanpa sungkan-sungkan menunjukkan kekaguman mereka.

"I don't believe we've met. Pasti aku akan ingat kalau sudah bertemu tiga wanita cantik seperti kalian," sapa Troy dengan segala kharisma dan keramahannya sambil mengecup sekilas masing-masing tangan ketiga teman Gadis itu.

Sandra, Marleen, dan Charlotte langsung saja luluh lantah oleh pesona Troy yang mematikan. Sementara di tempatnya Gadis juga langsung luluh, luluh muntah oleh segala tingkah Troy yang menurutnya sangat-sangat artifisial.

Kejadian selanjutnya sudah bisa ditebak. Sandra, Marleen dan Charlotte memberi lelaki itu interview bak selebriti, menanyakan ini-itu tentang masalah pribadinya---Suka hang out di mana? Favorit designer label-nya apa? Kalau romantic dinner suka ke mana? Sekarang lagi seeing someone nggak? Kenal si ini nggak? Kalau si itu? Beberapa nama yang kelihatannya cream de la cream-nya ibu kota disebutkan oleh Sandra, Marleen, dan Charlotte, namun bagi Gadis semua itu hanya deretan nama tanpa arti. Dan buntut-buntutnya mereka pun mengajak Troy lunch bersama.

"Benar nggak ikut, Dis?" tanya Sandra memastikan.

Gadis menggeleng sekali lagi. Ajakan ketiga temannya buat gabung sedikit pun tidak menarik hatinya. Saat itu si Troy sudah meninggalkan mereka. Lelaki itu harus mendelegasikan beberapa tugas ke anak buahnya sebelum pergi. Mereka janjian bertemu di lobi bawah sepuluh menit lagi.

"Kan gue udah bilang gue sibuk, jadi nggak bisa ikut," tegas Gadis sekali lagi.

"Kok Troy bisa? Kayaknya dia nggak sok sibuk gitu kayak elo," desak Marleen lagi.

"Iya, Dis, dia nyantai aja tuh," Charlotte ikut menambahkan.

"Udah deh, mending kalian pada pergi aja tanpa gue. Gue jamin makan siang kalian bakal lebih tenteram dan damai kalau gue nggak ikut. Gih sana pada pergi," usir Gadis. Makin cepat mereka pergi, makin cepat pula ia bisa kembali bekerja.

------------------------------------------------ 

 

Back to : HOME

 


Posted at 07:29 pm by LALA

LALA
July 8, 2009   10:13 AM PDT
 
to NINDYA
Tks yaa... mmg terpaksa dibuang scene ini biar lbh fokus ke Troy & Gadis.
Anastasia
December 20, 2009   10:18 PM PST
 
Couldn;t agree more to it..
Emang sedikit ga pentng sih,,, heehe
nachan
June 26, 2010   01:38 AM PDT
 
bener banget kak kalo scene yang ini di hapus aja. ntar critanya pasti pasjang banget -bukan berarti aku gak suka ceritanya, tapi bener kata kak lala, kalo ntar cerita gadis sama troy nya gak fokus-
LALA
July 4, 2010   03:17 PM PDT
 
to Anastasia & Nachan

Dibuat supaya certanya lebih fokus ke Gadis & Troy :))
ev
December 14, 2010   07:29 PM PST
 
hallo kak...
LHPP tuh keren bgt..
aq baru slesai mbacanya nih...
jalan cerita ny mampu membangkitkan emosi..
apalagi kalo pas gadis ama troy ny berantem.
salut deh ama kak lala.. :)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry