Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com
→ to get more interactive with Karla, please join her at FACEBOOK or TWITTER





Terima kasih telah mampir ke blog ini .... Terima kasih telah mampir ke blog ini ....




Sekilas Penulis --- Guestbook ---
Buy Karla's Books Online


Komentar lama di Chatbox ini akan otomatis terhapus. Untuk
meninggalkan komentar yg permanen, silahkan isi GUESTBOOK,
atau di READER'S COMMENT di setiap posting

   




Karla M. Nashar on Facebook




If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, January 08, 2008
Sebelum Cahaya – Synopsis

Available

MID JANUARY 2008

 

 

 

This book is a songlit — a novel inspired by LETTO's famous song Sebelum Cahaya. Until it is available at your nearest book stores, please enjoy the following synopsis + excerpt…

 

----------------------------------------------------------

 

 

Synopsis

 

"Enggar sayang, tahu nggak apa yang aku lakukan kalau teringat kamu saat malam hari? Aku akan memandangi toples kaca yang aku bawa saat pindah dari pesisir kita. Masih ingat kan ceritaku tentang toples kaca itu? Aku mengisinya dengan enam genggam pasir dari pantai kita, dua genggam aneka macam kerang dan karang laut, sebuah bintang laut kemerahan yang aku temukan telah terdampar mati di pasir, serta sepotong ranting hanyut yang suka kamu pungut kalau kita sedang berjalan di pantai… Ternyata pantai kita dalam toples kaca itu memang mujarab. Keajaiban cinta yang tersimpan di dalamnya telah berhasil membantuku melewati tahun-tahun ini jauh dari kamu."

 

 

Di pesisir indah itu Enggar dan Mariena pertama kali bertemu, bertengkar, lalu jatuh cinta. Dan di pesisir indah itu juga mereka harus berpisah. Lalu waktu berlalu. Mereka bertemu kembali. Tumpukan surat yang Mariena kirim ke Enggar bertahun-tahun menjadi bukti perasaanya masih sama. Namun Enggar telah berubah. Labirin kegelapan yang menyelimutinya kini, membuat sosok cowok itu menjadi pesimis.

 

"Dan ingatlah Enggar, apa pun yang terjadi, kamu akan selalu bisa pulang ke dalam hatiku." —  Itulah yang ingin Mariena lakukan. Meyakinkan Enggar untuk pulang ke dalam hatinya. Selamanya.

 

----------------------------------------------------------

 

 

LETTO's Comments:

 

Saya sangat terkesan. Novel ini tidak hanya sekedar menceritakan tentang bagaimana melihat cahaya, namun merasakan dan memahaminya sebagai sebuah spirit kehidupan. Siapa pun atau apa pun itu, sesungguhnya dapat kita jadikan sebagai cahaya hidup kita. Bacalah novel ini dan Anda akan tahu. Great!

(NOE, vokalis Letto)

 

 

Membaca novel ini saya langsung tahu bahwa novel ini tidak muncul begitu saja dari khayalan penulis, tapi dari intuisi hati yang tertuang di goresan-goresan yang luar biasa!

(PATUB, gitaris Letto)

 

 

Kesedihan, kegembiraan, kepedihan, tangisan, jeritan, pisuhan, dan semua unsur sifar-sifat manusia bergolak dan teramu dengan baik dalam novel ini. Salut buat penulis!

(ARI, bassis Letto)

 

 

Inilah novel biasa dengan alur dan setting yang biasa, namun diolah oleh seorang genius! Jujur, saya terbawa olehnya…

(DEDI, drummer Letto)

 

----------------------------------------------------------

 

Excerpt

 

Kutahu aku telah mencintainya

sebelum cahaya merekah untuk

pertama kali dalam kehidupanku.

 

Kutahu aku semakin mencintainya saat

cahaya memancar indah memberi

berbagai warna dalam kehidupanku.

 

Dan kutahu aku tetap mencintainya

walau kini cahaya tak lagi memberikan

keajaiban warna dalam kehidupanku.

 

Bagiku, dialah cahaya abadi dalam

labirin kegelapan yang menyelimutiku kini.

 

 

 

Suatu pagi di pesisir selatan Jawa Barat.

Enggar mengerang pelan saat merasakan tubuhnya kaku karena posisi tidurnya yang serba salah semalaman tadi. Akan dipenggalnya kepala si Danu yang mengaku sudah menjemur dan menggebuk kasurnya dengan sapu lidi kemarin siang. Padahal ia sudah memberinya upah lima ribu perak. Nyatanya, kasur itu masih tetap tidak nyaman seperti sebelumnya. Biasanya  kondisi kasur itu jadi lumayan jika habis dijemur, tapi tidak kali ini. Dan itu hanya berarti satu hal.

Brengsek, pasti si kampret kecil itu sudah menipuku lagi, maki Enggar dalam hati.

Hubungannya dengan si kampret itu memang bisa dibilang sebagai kutukan mutual simbiosis. Ia butuh bantuan si kampret untuk melakukan hal-hal kecil, sementara si kampret itu butuh uang yang sering diberikannya sebagai upah atas bantuannya. Masalahnya Danu itu belum pernah diajar tata krama untuk tidak membohongi orang yang mempunyai kekurangan fisik seperti dirinya. Itu juga sebabnya ia sering jadi korban Danu. Tapi ia memang tak bisa benar-benar marah pada Danu. Kampret kecil itu jelas mengingatkan dirinya sendiri saat berusia dua belas tahun. Hal yang sama mungkin akan dilakukannya juga jika ia berada pada posisi Danu seperti saat ini. Siapa sih yang tidak mau dapat uang jika bisa menipu dengan mudah orang yang memberi uang itu?

 

 

 

 

Setelah menerima ember berisi ikan-ikan itu, Enggar segera berjalan menuju tempat  penjemuran ikan yang berada beberapa meter di sisi rumah menghadap ke laut lepas. Bunyi deburan ombak di pagi itu terdengar begitu jernih. Enggar berhenti sejenak, mengangkat wajahnya ke langit dan membiarkan sinar mentari pagi menghangatkan wajahnya. Ia menghirup napas dalam-dalam. Ke mana pun ia pergi, ia tak akan pernah dapat melupakan bau segar laut di pagi hari yang telah dikenalnya sejak lahir. Di pesisir inilah ia pertama kali menatap dunia, dan di pesisir inilah suatu saat nanti ia tahu bahwa ia akan menutup kedua matanya untuk selamanya. Walau ia pernah meninggalkan tempat ini selama beberapa tahun, namun baginya pesisir ini adalah rumahnya—tempat di mana ia akan selalu merasa pulang ke tempat seharusnya ia berada. Tempat yang menyimpan banyak kenangan. Termasuk kenangan dari masa lalu yang kini berkelebat di kepala Enggar….

 

 

 

 

     Seorang anak perempuan berusia sekitar dua belas tahun menarik rok Mariena pelan, membuatnya menghentikan langkah, berbalik ke arah kanannya. Gadis kecil itu menjulurkan tangannya yang berisi setumpuk kalung dari kerang laut, lalu berkata sesuatu yang awalnya sama sekali tak dapat dimengerti oleh Mariena. Butuh beberapa menit baginya untuk menyadari jika ternyata gadis kecil itu tuna rungu.

"Kalung yang cantik sekali," ujar Mariena sambil berjongkok di depan gadis kecil itu. "Berapa? Empat ribu satunya? Ah, sepuluh ribu tiga buah? Baik, aku akan ambil enam buah kalau begitu. Coba tunjukkan semua yang kamu punya biar aku bisa memilihnya."

Gadis kecil itu tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang tidak lengkap. Kantong plastik hitam yang dipegang dengan tangannya yang satu lagi segera ditaruh di atas jalanan aspal, lalu tanpa ragu ditumpahkan seluruh isinya. Di dalamnya keluar tumpukan kalung-kalung kerang beraneka ragam. Gadis kecil kembali berkata-kata dalam bahasanya sendiri sambil bolak-balik menunjukkan berbagai kalung jualanannya kepada Mariena.

 

 

 

------------------------------------------------ 

 

Back to : HOME


Posted at 09:52 pm by LALA

laily
June 11, 2008   05:15 PM PDT
 
sorry la, aku blm baca novelmu yang ini...tapi kok kayaknya sedih ya...?
tapi menarik..
besok deh aku cari novelnya...

therez
February 11, 2009   12:48 PM PST
 
mba,,

ni novel'na mz ad d gramed nda,,??
LALA
February 13, 2009   09:02 PM PST
 
to THEREZ

Harusnya sih ada, tapi nggak tahu juga ya...
Fca
November 25, 2009   08:08 PM PST
 
Mantabbb..kak novelnya...
Fca
November 25, 2009   08:08 PM PST
 
Mantabb kak novelnya...
LALA
December 5, 2009   02:32 PM PST
 
to Fca
Makasih yaaa :)
LALA
May 19, 2010   10:54 AM PDT
 
to Sayfwan
Silahkan tanya ke penerbitnya langsung. Mereka yg mengurus pemasaran & mempunyai data ttg stoknya. Tks ya.
khan
May 25, 2011   04:34 PM PDT
 
saya sudah membacanya ....
jujur saya terbawa olehnya jalan ceritanya .....
benar kata Dedi, drummer letto .....
mantaap ........
lia niti gotami
September 18, 2011   09:47 AM PDT
 
serius... terbawa banget sama novel ini... it's great... :)
prima
April 17, 2013   09:09 PM PDT
 
ini novel pertama yg bikin aq jatuh cinta sma novel songlit :)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry